Panorama Negeriku
My country Indonesia
Selasa, 24 Februari 2009
Nasihat Nabi kepada Putrinya
Ada 10 wasiat Rasulullah SAW kepada putrinya Fathimah binti Rasulillah. 10 wasiat yang beliau sampaikan merupakan mutiara yg termahal nilainya bila kemudian dimiliki oleh setiap istri sholeha. Wasita tersebut adalah:
1). Ya, Fatimah kepada wanita yg membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum melebur kejelekan, dan meningkatkan derajat wanita itu.
2). Ya, Fatimah kepada wanita yg berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah menjadikan dirinya neraka 7 tabir pemisah.
3). Ya, Fatimah. Tiadalah seorang yg meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan mencuci pakaiannya, melainkan Allah menetapkan pahala memberi makan seribu orang yg kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yg telanjang.
4). Ya, Fatimah, tiadalah wanita yg menahan kebutuhan tetangganya, melainkan Allah akan menahannya dari minum telaga kautsar pada hari kiamat nanti.
5). Ya, Fatimah, yg lebih utama dari keutamaan di atas adalah keridhoan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridho kepadamu, maka aku tidak akan mendo'akanmu. Ketahuilah, Wahai Fathimah. Kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.
6). Ya, Fatimah. Apabila wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika wanita akan merasa sakit akan melahirkan, Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan Allah. Jika dia melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Bila meninggal ketika melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa sedikit pun. Di dalam kubur akan mendapat pertamanan indah yg merupakan bagian dari taman surga. Dan Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala 1000 orang yg melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.
7). Ya, Fatimah, tiadalah wanita yg melayani suami selama sehari semalam dengan rasa senang serta ikhlas, melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakian padanya dihari kiamat berupa pakaian yg serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Dan Allah memberikan kepadanya pahala 100 kali beribadah haji dan umrah.
8). Ya, Fatimah, tiadalah wanita yg tersenyum di hadapan suami, melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih sayang.
9). Ya, Fatimah, tiadalah wanita yg membentangkan alas tidur untuk suami dengan rasa senang hati, melainka para malaikat yg memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yg telah lalu dan yg akan datang.
10). Ya, Fatimah, tiadalah wanita yg meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman arak yg dikemas indah yg didatangkan dari sungai-sungai surga. Allah mempermudah sakratul maut baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shiratal-mustaqin dengan selamat.
Begitu indah menjadi wanita, dengan kelembutan dan kasih sayangnya dapat merubah dunia. Jadilah dirimu menjadi wanita sholeha, agar negeri menjadi indah, karena dirimu adalah tiang negeri ini!
Sumber: milis FLP, diposting oleh Erwin Arianto (http://erwinarianto.blogspot.com)
Selasa, 10 Februari 2009
Suami yang Sholeh

Suami yang soleh sangat bertanggung jawab pada keluarganya
Keluarganya dibawa mencintai dan takutkan Tuhannya
Mereka dididik beribadah dan berakhlak yang mulia
Syariat Tuhannya adalah disiplin di dalam rumah tangganya
Tanggung jawab dunianya tidak diabaikannya
Makan minum pakaian tempat tinggal diuruskannya
Pengajaran, nasihat dan pimpinan adalah kewajibannya yang paling utama
Kasih sayang, timbang rasa (kepada anak-anak dan isteri-isterinya) menjadi budaya
Ulah anak-anak dan isteri-isterinya dia sabar menanggungnya
Dihadapi dengan lemah lembut, tidak mengapa sekali-sekali menghukumnya
Senantiasa mendoakan mereka, berlapang dada amalan hidupnya
Kecewa dan putus asa mendidik tidak ada di dalam sikapnya
Suami yang soleh senantiasa berkhidmat dengan keluarganya
Malah sering bersimpati dengan kesusahan mereka
Urusan Akhirat sangat diutamakannya
Urusan dunia tidak pula diabaikannya, di waktu mereka memerlukannya
Kesalahan anak-anak dan isteri-isteri senantiasa dimaafkannya
Mereka dididik penuh bijaksana dengan penuh sabar & tabahnya
Rukun damai, hidup harmoni senantiasa diusahakannya
Rasa bersama bekerjasama, Tuhan diutama, keluarga bahagia
Begitulah suami yang soleh senantiasa bertanggungjawab kepada keluarga
Karena takutnya dengan Tuhannya dia sangat mengambil berat keluarganya
Anak-anak dan isteri-isteri sangat taat (dan menghormatinya)
karena suaminya berwibawa dan sangat mulia
Jumat, 30 Januari 2009
Makna Musibah

Musibah berasal dari kata ashaaba, yushiibu, mushiibatan yang berarti segala yang menimpa pada sesuatu baik berupa kesenangan maupun kesusahan. Namun, umumnya dipahami musibah selalu identik dengan kesusahan. Padahal, kesenangan yang dirasakan pada hakikatnya musibah juga. Dengan musibah, Allah SWT hendak menguji siapa yang paling baik amalnya.
''Sesungguhnya kami telah jadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, karena Kami hendak memberi cobaan kepada mereka, siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya.'' (QS Al-Kahfi (18): 7) Ada tiga golongan manusia dalam menghadapi musibah. Pertama, orang yang menganggap bahwa musibah adalah sebagai hukuman dan azab kepadanya. Sehingga, dia selalu merasa sempit dada dan selalu mengeluh.
Kedua, orang yang menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa. Ia tidak pernah menyerahkan apa-apa yang menimpanya kecuali kepada Allah SWT. Ketiga, orang yang meyakini bahwa musibah adalah ladang peningkatan iman dan takwanya. Orang yang seperti ini selalu tenang serta percaya bahwa dengan musibah itu Allah SWT menghendaki kebaikan bagi dirinya.
Musibah yang ditimpakan kepada manusia ada dua macam. Pertama, musibah dunia; dan kedua, musibah akhirat. Musibah dunia salah satunya ialah ketakutan, kelaparan, kematian, dan sebagainya sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 155. ''Dan pasti akan kami uji kalian dengan sesuatu dari ketakutan, dan kelaparan, dan kekurangan harta dan jiwa dan buah-buahan, dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.'' Adapun musibah akhirat adalah orang yang tidak punya amal saleh dalam hidupnya, sehingga jauh dari pahala. Rasulullah SAW pernah bersabda, ''Orang yang terkena musibah, bukanlah seperti yang kalian ketahui, tetapi orang yang terkena musibah yaitu yang tidak memperoleh kebajikan (pahala) dalam hidupnya.''
Orang yang terkena musibah berupa kesusahan di dunia, jika ia hadapi dengan kesabaran, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT, hakikatnya ia tidak terkena musibah. Justru yang ia dapatkan adalah pahala.
Sebaliknya, musibah kesenangan selama hidupnya, jika ia tidak pandai mensyukurinya, maka itulah musibah yang sesungguhnya. Karena, bukan pahala yang ia peroleh, melainkan dosa.
Berkenaan dengan hal tersebut, dalam hadis Qudsi Allah SWT berfirman, ''Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, Aku tiada mengeluarkan hamba-Ku yang Aku inginkan kebaikan baginya dari kehidupan dunia, sehingga Aku tebus perbuatan-perbuatan dosanya dengan penyakit pada tubuhnya, kerugian pada hartanya, kehilangan anaknya. Apabila masih ada dosa yang tersisa dijadikan ia merasa berat di saat sakaratul maut, sehingga ia menjumpai Aku seperti bayi yang baru dilahirkan.''
(Hikmah Republika )
Senin, 20 Oktober 2008
Perpisahan yang Membahagiakan
Akhirnya sahabatku "Yusnita Widi Astuti" menikah pada tanggal 19 Oktober 2008. Prosesi pernikahan dimulai dari pukul 09.20 - 09.55 dengan sangat lancar. Aku heran melihat sahabatku yang satu ini, dalam menghadapi detik-detik pernikahannya dia tampak tidak gugup sama sekali, bahkan malam hari menjelang akadnya dia bisa tidur dengan pulas.
Pagi itu, aku merasakan sebuah ketegangan. Sebagai seorang sahabat aku sangat senang bisa menemani dia melangkah ke lembaran hidup yang baru bersama pasangannya tapi disisi lain ada kesedihan dalam diri ini - takut tak mampu menjaga komunikasi, takut kehilangan sahabat, takut kehilangan perhatiannya, ah .... sebuah ketakutan yg tak beralasan-
Dimalam setelah ijab kabul dibacakan, yusnita masih merengek minta ditemani tidur olehku. Nggak bisa dibayangin, status dia sebagai seorang istri harusnya berada di samping suami e... ini malah minta ditemenin sahabatnya. Aku paham betul kenapa dia begitu manja kepadaku saat itu
karena dia merasa bahwa sebentar lagi kami akan berada di pulau yg berbeda dlm jangka waktu yg lama. Selama ini kami sudah melalui begitu banyak kisah bersama dari suka maupun duka kami selalu menangis dan tertawa bersama.
Aku sadar bahwa tiap sahabat yang aku miliki mempunyai keunikan masing-masing dan dia salah satunya. Dalam belajar memahami dia aku harus banyak tau tentang dia dan keluarganya, hal ini aku lakukan agar aku memiliki kekuatan lebih untuk memahami Nita. Ternyata pengorbananku untuk belajar memahami dia selama 11 tahun ini tak pernah sia-sia, banyak teman kami yang heran melihat hubunga kami - ya .... sebagai sahabat kami termasuk awet - walaupun perselisihan pendapat juga terjadi dalam persahabatan kami.
Kami berdua pernah membuat sebuah kesepakatan, jika salah satu dari kami menikah harus ditemani sampai acara selesai. Jadi ... klo nantinya aku menikah hukumnya wajib bagi yusnita untuk datang jika suaminya mengijinkan. Dalam keluargaku Yusnita bukanlah sosok yang asing begitu juga sebaliknya sehingga tak sulit bagi kami mendapatkan ijin untuk pergi bersama. Sudah begitu banyak hal yang sudah kami lalui bersama dan seakan itu akan menjadi kenangan tersendiri bagi kami dan akan menjadi sebuah cerita bagi anak cucu kami nantinya. Selamat menempuh hidup baru saudaraku .... Aku turut berbahagia atas kebahagiaan yang kau peroleh. Aku akan selalu menjadi saudaramu dan semoga Allah menjaga ikatan persaudaraan kita.
Rabu, 20 Agustus 2008
Keutamaan Surat Ar Rahman

1. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Ar-Rahman, Allah akan menyayangi kelemahannya dan meridhai nikmat yang dikaruniakan padanya.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5/187).
2. Imam Ja’far Ash-shadiq (sa) berkata: “Barangsiapa yang membaca surat Ar-Rahman, dan ketika membaca kalimat ‘Fabiayyi âlâi Rabbikumâ tukadzdzibân’, ia mengucapkan: Lâ bisyay-in min âlâika Rabbî akdzibu (tidak ada satu pun nikmat-Mu, duhai Tuhanku, yang aku dustakan), jika saat membacanya itu pada malam hari kemudian ia mati, maka matinya seperti matinya orang yang syahid; jika membacanya di siang hari kemudian mati, maka matinya seperti matinya orang yang syahid.” (Tsawabul A’mal, hlm 117).
3. Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Jangan tinggalkan membaca surat Ar-Rahman, bangunlah malam bersamanya, surat ini tidak menentramkan hati orang-orang munafik, kamu akan menjumpai Tuhannya bersamanya pada hari kiamat, wujudnya seperti wujud manusia yang paling indah, dan baunya paling harum. Pada hari kiamat tidak ada seorangpun yang berdiri di hadapan Allah yang lebih dekat dengan-Nya daripadanya. Pada saat itu Allah berfirman padanya: Siapakah orang yang sering bangun malam bersamamu saat di dunia dan tekun membacamu. Ia menjawab: Ya Rabbi, fulan bin fulan, lalu wajah mereka menjadi putih, dan ia berkata kepada mereka: Berilah syafaat orang-orang yang mencintai kalian, kemudian mereka memberi syafaat sampai yang terakhir dan tidak ada seorang pun yang tertinggal dari orang-orang yang berhak menerima syafaat mereka. Lalu ia berkata kepada mereka: Masuklah kalian ke surga, dan tinggallah di dalamnya sebagaimana yang kalian inginkan.” (Tsawabul A’mal, hlm 117).
Wassalam
Dikutib dr tulisan Syamsuri Rifai
Selasa, 19 Agustus 2008
Kedudukan Doa dalam Islam
“Sudah rajab, Ramadhan sebentar lagi, Assalamu’alaikum wr.wb. Allâhumma bârik lanâ fî rajabin wa sya`bân, wa ballighnâ syahra ramadhân, wa a`inna `alash shiyâmi wal-qiyâmi wa hifzhil lisân wa ghadhdhil bashir, walâ taj’al hazhzhanâ minhul jû`a wal-`athasy.
[Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan. Bantulah kami untuk melaksanakan puasa, melakukan shalat malam, menjaga lisan dan memelihara pandangan; dan jangan jadikan puasa kami hanya sekedar lapar dan dahaga.]”
Ketika berselancar kepada bebarapa teman di blogger, ternyata sedang marak tulisan tentang doa rajab dan menjemput ramadhan. Sebut saja artikel yang menjadi headlinenya www. ghuroba.blogsome.com di atas.
Beberapa hari Kemarin seorang sahabat meng sms dan mengirim doa “bârik lanâ fî rajabin wa sya`bân, wa ballighnâ syahra ramadhân [Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.]”
Ketika membaca sms di atas, saya sedang membaca buku Bunga Rampai Pemikiran Islam karya Muhammad Ismail Bab Doa. Jadi, Mari sedikit kita mengaji tentang doa dari beliau yuk!
Do’a adalah permohonan seorang hamba kepada Tuhannya. Do’a merupakan aktifitas ibadah yang paling agung. Imam Tirmidzi telah meriwayatkan dalam sebuah hadits yang berasal dari Anas ra : “Do’a itu adalah otaknya ibadah.” (HR. Tirmidzi)
Terdapat banyak riwayat dari Nabi Saw yang menganjurkan dan mendorong seseorang untuk berdo’a, seperti antara lain : “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia dihadapan Allah, selain daripada do’a.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah)
“Siapa saja yang tidak mau memohon (sesuatu) kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya.” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah)
“Mintalah kepada Allah akan kemurahan-Nya, karena sesungguhnya Allah senang bila dimintai (sesuatu).” (HR. Tirmidzi dari Ibnu Majah)
“Sesungguhnya do’a itu dapat member manfaat (bagi pelakunya) untuk sesuatu yang telah terjadi. Maka wahai hamba Allah, lakukanlah do’a itu.” (HR. Tirmidzi dari Ibnu Umar)
“Tidak ada seorang muslim pun di muka bumi ini yang berdo’a kepada Allah, kecuali akan dikabulkan do’anya, atau dijauhkan suatu keburukan/musibah yang serupa.” (HR. Tirmidzi dan Hakim dari Ubadah Ibn Shamit)
“Tidak ada seorang muslim pun yang bardo’a dengan do’a yang tidak mengandung dosa dan memutuskan hubungan silaturahmi, kecuali Allah akan memberikan kepadanya satu dari tiga hal: dikabulkan do’anya; ditangguhkan hingga hari kiamat; atau dijauhkan dari suatu keburukan/musibah yang serupa.” (HR. Ahmad dari Abi Said Al Khudri)
Semua hadits di atas menunujukan adanya keharusan berdo’a yang berupa permohonan hamba kepada Tuhannya untuk mendapatkan sesuatu. Dalam Al Qur’an terdapat banyak ayat yang menunujukan adanya do’a, antara lain: “Dan Tuhanmu berfir man: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu.” ( Al Mukmin 60 )
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdo’a kepada-Ku.” (Al Baqarah 186 )
“Atau siapakah yang nenperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khlifah (berkuasa) di bumi “? (An Naml 62 )
Tentang do’a malaikat, Allah SWT berfirman:
“(Malaikat-malaikat) yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilignya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampunan bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu. Maka, ampunilah orang-orang yang bertaubat yang mengikuti jalan-Mu, dan peliharalah mereka dari siksa api neraka yang menyala-nyala.
Ya Tuhan kami, masukanlah mereka kedalam seuga-surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka bersama orang-orang yang shaleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Al Mukmin 7-8 )
Allah SWT telah memerintahkan kita agar berdo’a kepada-Nya, juga telah menjelaskan bahwa hanya Dialah yang dapat mengabulkan Do’a. Bukan yang lain. Allah juga memaparkan bahwa sebagian dari do’a dilakukan oleh malaikat-Nya. Maka, Allah menganjurkan kepada setiap muslim agar berdo’a kepada-Nya, baik disaat sempit maupun lapang, di dalam hati, maupun terang-terangan, sehingga ia memperoleh pahala dari Allah.
Berdo’a itu lebih baik daripada diam atau berserah diri. Hal ini berdasarkan banyaknya dalil yang menunjukan, juga karena berdo’a adalah manifestasi dari kepatuhan dan ketundukan kepada Allah SWT. Akan tetapi, patut di ketahui bahwa do’a tidak dapat merubah sesuatu yang termasuk ilmu Allah; tidak dapat menolak qadha; tidak dapat mencabut qadar serta ridak dapat menghasilkan sesuatu di luar sebabnya.
Karena Ilmu Allah adalah ketetapan pasti, qadha Allah adalah sesuatu kenyataan dan pasti terjadi , kalau saja qadha dapat di tolak oleh do’a, tentu tidak ada qadha. Dan qadar pun telah diciptakan oleh Allah, sehingga ia tidak bisa dicabut oleh do’a. Allah telah menciptakan hukum sebab – akibat, dijadikan-Nya sebab supaya dapat melahirkan musabab (akibat) dengan pasti. Jika tidak menghasilkan musabab tertentu, berarti ia bukan sebab.
Oleh karena itu, tidak boleh dijadikan keyakinan bahwa do’a itu satu-satunya jalan untuk memenuhi kebutuhan, sekalipun misalnya Allah mengabulkannya sehingga kebutuhan seseorang terpenuhi. Sebab, Allah telah menciptakan aturan-aturan untuk manusia, alam semesta, dan kehidupan, dimana ketiganya tunduk pada aturan-aturan itu. Allah pun mengingatkan sebab dengan musabab. Sehingga do’a tidak memiliki pengaruh untuk mengubah atutran-aturan Allah, atau keluar dari hukum sebab-akibat yang telah dibuat-Nya.
Tujuan berdo’a tidak lain semata-mata untuk memperoleh pahala dari sisi Allah, sebagai peklaksanaan dari perintah-Nya. Do’a adalah satu diantara jenis-jenis ibadah, sama dengan ibadah-ibadah lainnya seperti shalat, shaum, zakat, dan sebagainya. Maka, seorang mukmin tentu akan berdo’a kepada Allah dan memminta kepada Allah untuk dipenuhi kebutuhannya, atau untuk menjauhkan dari rasa sedih, atau hal-hal lainnya yang berkaitan dengan urusan duniawi atau akhirat.
Do’a dilakukan sebagai bukti ketundukan kepada Allah dan usaha manusia untuk mendapatkan pahala dari Allah, sekaligus melaksanakan perintah-perintah-Nya. Apabila kebutuhannya terpenuhi, maka itu adalah anugrah dari Allah. Pemenuhan itu pun sesuai (sajalan) dengan aturan-aturan Allah serta berjalan diatas dasar-dasar peraturan sebab-akibat. Jika kebutuhannya tidak dipenuhi, maka tetap mendapatkan pahala.
Berdasarkan penjelasan tadi, do’a bagi seorang muslim, hendaknya merupakan tanda ketundukan kepada Allah, sebagai pelaksanaan perintah-Nya, dan usaha memperoleh pahala dari Allah SWT. Sama saja apkah permohonannya terpenuhi atau tidak. Boleh saja seorang muslim berdo’a dengan bentuk do’a apa pun yang dikehendakinya; baik di dalam hati, diucapakan melalui lisan, atau dengan kalimat apa pun, dan ia tidak terikat dengan bentuk do’a tertentu. Ia boleh berdo’a dengan do’a-do’a yang tercantum dalam Al Qur’an, hadits, dengan bentuk redaksinya sendiri-sendiri atau dengan mengambil do’a yang berasal dari orang lain. Yang penting, ia dituntut untuk berdo’a kepada Allah. Namun demikian yang lebih utama, tentulah bentuk do’a sebagaimana yang tercantum dalam Al Qur’an dan Hadits.
Rabu, 13 Agustus 2008
Diuji dengan Kenyamanan
Saya bisa berpikir seperti ini, karena dalam kosa kata bahasa Indonesia sendiri hanya dikenal satu kata dalam konteks ini, yaitu "diuji". Dan dengan kata ganti ini, persepsi hampir semua orang bergeser pada pengertian bahwa "diuji" adalah sebuah ungkapan yang menggambarkan sebuah kondisi susah. Sesuatu yang sebenarnya justru menjadi menyempit. Ketika kata itu sendiri justru mengecil artinya.
Setiap individu seharusnya memiliki tujuan dalam hidupnya. Memiliki sebuah misi pribadi. Mission Statement kalau kita meminjam istilahnya Stephen Covey pada habit ‘Begin With The End in Mind’. Cpvey mengajarkan kita untuk suatu ketika menuliskan apa misi hidup kita di dunia ini, setiap kali secara rutin harus melakukan review kembali. Untuk mungkin dilengkapi, atau tetap seperti itu dan membuat semakin kuat pemahaman atas misi itu, atau mungkin dirubah sama sekali menjadi sebuah misi yang baru. Setiap orang pastilah berbeda misi hidupnya. Hal ini sah-sah saja. Karena memang sudah menjadi anugrah dari Sang Pencipta, bahwa manusia diciptakan berbeda satu dengan yang lainnya. Tidak ada benar atau salah dalam misi hidup seseorang, yang penting harus ada selalu proses pembelajaran orang tersebut dalam mensikapi kehidupannya.
Nah, saya mendefinisikan sebuah ujian adalah sesuatu yang menghalangi kita dalam ‘berjalan’ mengemban misi kita menuju tujuan hidup kita. Penghalang ini yang bisa memberikan pengaruh kepada kita, dimana kita akan lulus dalam arti bisa melewati ujian dan tetap konsisten terhadap misi hidupnya. Atau gagal, sehingga lupa atau membuat kabur misi yang sudah disusunnya.
�
Sampai pada pengertian ini, logika kita akan membawa pada kesimpulan bahwa sebuah ujian seharusnya tidak hanya sesuatu yang menyusahkan atau sesuatu yang membuat tidak nyaman. Tapi sesuatu yang enak dan membuat nyaman bisa juga kita kategorikan sebagai sebuah ujian.
Dalam kosa kata bahasa Jawa, ada sebuah definisi terhadap hal ini yaitu ‘diujo’. ‘Diuji’ berkonotasi pada sesuatu yang menyusahkan, ‘diujo’ diartikan mengalami sesuatu yang mengenakkan, tapi sebenarnya hal itu adalah ujian. Dan layaknya sebuah ujian, nantinya kita bisa lulus atau gagal.
Dalam keseharian kita, hampir semua orang melihat sesuatu yang mengenakkan –menjadi kaya, karirnya meningkat, usahanya sukses, selalu menerima kemudahan-kemudahan- hanya pada sisi pandang bahwa itu adalah sebuah anugrah –termasuk bila itu terjadi atas usaha yang dilakukan-. Tidak banyak yang melihat itu dari sisi pandang bahwa segala kenikmatan itu adalah sebuah ujian. Diujo harta berlimpah, diujo karir yang terus menanjak, diujo usaha yang terus saja maju.
Buktinya apa kalau yang menyenangkan itu bisa juga berupa ujian? Buktinya adalah, kita bisa melihat disekeliling kita dimana orang yang mulai berlimpah harta, berada dipuncak karirnya, justru lupa akan misi hidupnya. Kita lihat banyak orang kaya justru membelanjakan kekayaannya pada hal-hal tidak perlu benar, banyak orang sukses dengan karir dan pengusaha besar saat ini terjerat masalah hukum. Bukti bahwa mereka –justru- telah gagal karena segala kenikmatan yang diperolehnya.
Jadi ketika kita mendapat kesenangan atau kemudahan dalam hidup ini, selain tentunya bersyukur bahwa bisa jadi hal itu adalah sebuah anugrah, ada baiknya kita coba lihat sisi pandang lain, bahwa itu juga bisa jadi sebuah ujian, yang tentunya akan membuat kita akan lebih bersyukur, dan semakin mempertajam kita akan misi hidup kita…
7 Agustus 2008
Pitoyo Amrih